Beberapa kegiatan Kulabangga dalam rangka Idul Fitri 143H

Buka bersama di RM Handayani Matraman Jakarta Pusat dalam rangka persiapan kegiatan sosial menghadapi Idul Fitri 1435H. Mudik Gratis bekerja sama dengan Pemda, Pemprov, Bank Jateng, Paguyuban Jawa Tengah, dan Seluruh Paguyuban Selengkapnya »

Selamat Idul Fitri 1435H

Ketua beserta Jajaran Pengurus Kulabangga mengucapkan SELAMAT IDUL FITRI 1434H, MOHON MAAF ATAS SEGALA SALAH DAN KHILAF. Selengkapnya »

Bantuan KULABANGGA mengalir ke Masyarakat Purbalingga

- Anak yatim dan kaum dhuafa di bawah asuhan beberapa panti asuhan di Purbalingga mendapatkan santunan Kumpulan Lare Purbalingga (Kulabangga) Jakarta. Santunan berupa uang tunai dan kitab suci Alqur’an, secara simbolis diserahkan Selengkapnya »

Ramadhan Tiba

SEGENAP PENGURUS KULABANGGA MENGUCAPKAN SELAMAT MENJALANKAN IBADAH PUASA RAMADHAN. SEMOGA AMAL IBADAHNYA DITERIMA ALLAH S.W.T. Selengkapnya »

KULABANGGA BERGERAK CEPAT MEREKRUT PESERTA MUDIK GRATIS

Sebagaimana tradisi yang terjadi di Indonesia khususya, yaitu mudik menjelang lebaran. Lebaran tanpa mudik serasa lebaran belum sempurna. Itulah kira – kira yang dirasakan masyarakat Indonesia khususnya. Dari tahun ke tahun, pemerintah Selengkapnya »

 

Gunung Slamet Diperkirakan Membentuk Kubah Lava Baru

tmp_15642-20140311070252132564377725

Gunung Slamet yang meliputi Kabupaten Banyumas, Purbalingga, Pemalang, Tegal, dan Brebes, Jawa Tengah, diperkirakan membentuk kubah lava baru akibat adanya aliran fluida dari dalam dapur magma.

“Adanya tremor yang terus-menerus berlangsung menunjukkan adanya aliran fluida dan bisa jadi adanya pertumbuhan kubah lava,” kata Kepala Pos Pengamatan Gunung Api Slamet Sudrajat saat dihubungi dari Purwokerto, Sabtu (30/8).

Menurut dia, hingga saat ini, aktivitas Gunung Slamet yang berstatus “Siaga” masih tinggi yang ditandai dengan terekamnya tremor terus-menerus dan munculnya sinar api yang disertai material pijar.

Terkait dengan tremor yang terekam, dia mengatakan bahwa tremor yang terjadi relatif konstan sejak beberapa hari terakhir.

Dalam hal ini, kata dia, berdasarkan pengamatan selama 12 jam terakhir mulai pukul 00.00-12.00 WIB, terekam tremor terus-menerus dengan amplitudo 15-45 milimeter namun dominan pada 25 milimeter.

Sementara pada pukul 00.00-06.00 WIB, lanjut dia, teramati adanya lontaran material pijar hingga 56 kali dengan ketinggian 300-500 meter, 81 kali sinar api setinggi 50-200 meter, serta terdengan enam kali suara dentuman dan 57 kali suara gemuruh.

“Selanjutnya pada pukul 06.00-12.00 WIB, teramati asap putih tebal setinggi 50-300 meter dari puncak Gunung Slamet,” katanya.

Saat dikonfirmasi terkait kekhawatiran masyarakat terhadap kemungkinan dinding Gunung Slamet sebelah selatan lebih tipis dibanding sisi utara karena kawahnya menghadap ke arah barat laut dan kemungkinan adanya skenario yang disiapkan jika magma telah mencapai puncak, Kepala Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Surono mengatakan bahwa hingga saat ini belum ada studi mengenai ketebalan dinding kawah.

“Di dunia manapun tidak ada studi ketebalan dinding kawah. Yang muncrat itu kan magma, skenarionya ya siaga,” katanya.

Menurut dia, hingga saat ini status Gunung Slamet tetap “Siaga”, sehingga masyarakat tidak boleh beraktivitas dalam radius 4 kilometer dari puncak.

Ia mengimbau masyarakat yang bermukim dan beraktivitas di luar radius 4 kilometer dari puncak Gunung Slamet agar tetap tenang dan menjalankan aktivitasnya seperti biasa.

Sementara itu, Kepala Pelaksana Harian Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Banyumas Prasetyo Budi Widodo mengatakan bahwa Dinas Sumber Daya Air dan Bina Marga (SDABM) Banyumas telah memperbaiki tiga jalur evakuasi yang berlokasi di Kecamatan Sumbang, Baturraden, dan Kedungbanteng.

“Jika kondisi Gunung Slamet memburuk, jalur-jalur evakuasi tersebut dapat digunakan warga untuk mengungsi sehingga proses evakuasi dapat berjalan lebih lancar,” katanya.

Ia mengatakan bahwa pihaknya akan memasang rambu-rambu di jalur evakuasi pekan depan agar warga di daerah rawan terdampak bencana erupsi Gunung Slamet tidak kebingungan saat mereka harus mengungsi.

Kendati demikian, dia mengharapkan kondisi Gunung Slamet tidak sampai mengakibatkan terjadinya pengungsian.

Sumber:suara pembaharuan

Aktifitas Gunung Slamet kembali meningkat, pendaki dilarang naik.

gunung slamet purbalingga

Pos Pengamatan Gunung Api (PPGA) meminta pendaki Gunung Slamet tidak melakukan pendakian selama ditetapkan siaga I (Waspada) pada Kamis lalu, 7 Agustus 2014.

Saat ini, warga yang berada di jalur dataran tinggi Pemalang, Purbalingga dan Purwokerto, Jawa Tengah dilarang untuk beraktivitas dari jarak 500 meter.

“Beberapa kali terdengar letusan kecil dan terdengar suara gemuruh di Gunung Slamet. Jadi, pendakian saat ini harus dibatalkan dulu,” ungkap Kepala PPGA Desa Gambuhan kabupaten Pemalang, Sudrajat, Minggu 10 Agustus 2014.

Dia mengatakan, status Gunung Slamet saat ini waspada, mengingat meningkatnya aktivitas vulkanologi selama beberapa hari terakhir. Frekuensi letusan kecil vulkanik Gunung yang terekam hampir setiap hari. Bahkan, suara dentuman terkadang terdengar dari Gunung.

“Ibaratnya, Gunung Slamet saat ini masih tertidur, kemudian terbangun lagi,” beber dia.

Dia menuturkan, pada saat malam 17 Agustus, pihaknya mengimbau agar tidak melakukan pendakian lebih dulu. Meski begitu, pendaki harus meminta informasi dari instansi terkait, jika tetap memaksakan melakukan pendakian.

Sementara itu, Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Tengah, Sarwa Pramana, menyebut pemantauan pada 9 Agustus 2014 pukul 00.00 hingga 24.00 WIB, telah terjadi 50 kali gempa letusan dan 468 kali gempa hembusan.

Sarwa menuturkan, saat suasana cerah teramati satu kali semburan material pijar dengan tinggi 300 meter, lima kali terdengar suara gemuruh, 21 kali sudara dentuman sedang-kuat, dan 17 kali tampak sinar api dengan tinggi 150-300 meter dari puncak.

“Jadi, aktivitas Gunung Slamet tetap waspada. Masyarakat agar tidak beraktivitas di radius dua kilometer dari puncak. Masyarakat yang bermukim dan beraktivitas di luar dua km dari puncak agar tetap tenang dan beraktivitas seperti biasa,” tambahnya