Bersama Kulabangga, ada yang menarik dalam progam mudik bersama gratis tahun ini untuk warga Purbalingga di Jabodetabek

Sebagaimana tahun tahun sebelumnya, Kulabangga bekerja sama dengan seluruh paguyuban Kabupaten / Kota se Jawa Tengaha kembali mengadakan program Mudik Gratis. Kegiaan ini di sponsori oleh Pemkab / Pemkot se Jawa Tengah, Selengkapnya »

DIRGAHAYU PURBALINGGA KE 184

KAMIS, 18 – 12 – 2014…. Segenap Pengurus Kulabangga (Kumpulan Lare Purbalingga) mengucapkan Selamat hari jadi Purbalingga yg ke 184… Harapan dan Doa selalu di utk kemakmuran, kesejahteraan, kemajuan ekonomi yg merata Selengkapnya »

Program Kerja Jangka Pendek Kulabangga

Notulen Rapat Kerja Menyusun Rencana Kerja Kulabangga 2014. Rapat dipimpin oleh Ketua Bidang Organisasi dan Hubungan Antar Lembaga, Bpk Sunarto. Rapat dilaksanakan pada hari Jum’at, tanggal 13 Desember 2024 di sekretariat II Selengkapnya »

Beberapa kegiatan Kulabangga dalam rangka Idul Fitri 143H

Buka bersama di RM Handayani Matraman Jakarta Pusat dalam rangka persiapan kegiatan sosial menghadapi Idul Fitri 1435H. Mudik Gratis bekerja sama dengan Pemda, Pemprov, Bank Jateng, Paguyuban Jawa Tengah, dan Seluruh Paguyuban Selengkapnya »

Selamat Idul Fitri 1435H

Ketua beserta Jajaran Pengurus Kulabangga mengucapkan SELAMAT IDUL FITRI 1434H, MOHON MAAF ATAS SEGALA SALAH DAN KHILAF. Selengkapnya »

 

Awas…!!! ternyata tanaman hias ini berbahaya.

tmp_10255-FB_IMG_14321271149921420420089

Silahkan perhatikan tanaman hiasan yang satu ini betul-betul, anda akan langsung menyadari bahwa anda sering melihatnya bukan, atau munkin ada di pekarangan rumah anda. Di Indonesia tanaman ini umum disebut beras wutah, sri rejeki, dumb cane, pisang tanah dll. Nama ilmiahnya adalah Dieffenbachia amoena.

Jika anda masih menyayangi anak-anak dan keluarga anda, musnahkan pohon hiasan ini segera, atau jauhkan darijangkauan anak-anak. Sekiranya anda menanam pohon di rumah, menaruhnya di ruang tamu, pastikan selepas membaca posting ini segera pindahkan pohon ini ke tempat yang jauh dari anak-anak anda.

Pohon hiasan ini adalah jenis tumbuhan yang sangat beracun, dapat mengakibatkan kematian sekiranya anak anda menggigit dan menelan daunnya. Kandungan racun yang kuat pada tanaman ini mampu membunuh kanak-kanak dalam waktu kurang dari 1 minit. Sedang pada orang dewasa racunnya dapat menyebabkan kematian kurang dari 15 minit. Bayangkan betapa kuatnya racun yang terdapat pada daun pohon ini. Jika mengenai mata, racun atau getahnya dapat menyebabkan kebutaan.

Anak-anak yang suka menggigit-gigit benda terutama yang berumur 1 sampai 3 tahun yang tidak tahu apa-apa mungkin saja memetik daun pohon hiasan ini jika anda letakkan diruang tamu atau teras depan rumah anda, jadi segera pindahkan jauh jauh.

Reaksi awal racun ketika menggigit daun tanaman ini adalah lidah anda akan membengkak dan dengan segera mengganggu pernafasan anda. Ini akan menyebabkan kematian kerana dada anda terasa sesak dan tidak dapat bernafas.

Tanaman satu ini sering terdapat di kanor-kantor pemerintahan dan sekolah-sekolah sebagai hiasan kerana daunnya yang terlihat bagus. Tanaman ini berasal dari Kenya , Rwanda dan Uganda. Senang tumbuh di iklim tropis. Daunnya yang besar dan hijau menjadi daya tarik tersendiri terutama bagi kaum ibu.

Bagikan ini ke facebook agar terbaca saudara, teman dan tetangga agar berhati-hati dengan tanaman ini demi keselamatan keluarga anda.

Kothekan lesung akan digelar di obyek wisata Goa Lawa Purbalingga

tmp_26725-Screenshot_2015-05-20-04-52-31-646408356
Dinas Kebudayaan Pariwisata Pemuda dan Olah Raga Kabupaten Purbalingga akan menggelar festival kothekan lesung pada Ahad, 24 Mei 2015. Festival yang akan dilangsungkan di obyek wisata Goa Lawa ini bakal diikuti oleh 18 kelompok seni kothekan lesung dari 18 kecamatan di Purbalingga.

“Festival ini baru pertama kali digelar. Dipastikan unik dan menarik,” kata Kepala Dinbudparpora Purbalingga, Subeno, Selasa, 19 Mei 2015.

Ia mengatakan penggelaran festival ini, selain bertujuan melestarikan tradisi masyarakat pedesaan, dijadikan daya tarik atraksi wisata di obyek wisata Goa Lawa. Pemain khotekanlesung dalam festival nanti bukan hanya ibu-ibu yang sudah berusia lanjut, tapi juga kalangan remaja.

“Melestarikan tradisi budaya dengan bermain lesung tidak membuat tangan para wanita terluka, tapi justru menggugah nilai seni tradisi yang sudah nyaris punah,” ujanya.

Menurut Subeno, lesung merupakan tempat menumbuk padi yang terbuat dari batang pohon. Adapun penumbuknya adalah batang kayu yang disebut alu.

Dulu, kata Subeno, para petani menggunakan lesung untuk menumbuk padi menjadi beras. Saat itu mereka masih menggunakan ani-ani sebagai alat panen padi. Keseharian para petani menumbuk padi itu juga diselingi dengan sejumlah hiburan untuk menghilangkan kejenuhan. Kothekan lesung adalah salah satunya.

Sambil menumbuk padi, Subeno melanjutkan, para petani memukul-mukulkan alu pada lesung secara berirama. Dengan begitu, tercipta irama tabuhan yang menarik dan para petani pun akan bersenandung untuk mengiringi irama itu. Mereka juga akan menggerakkan badan sambil mengikuti alunan irama. “Suasana bekerja pun akan menjadi lebih menyenangkan karena pekerjaan dilakukan dengan penuh kegembiraan dan kebersamaan,” kata Subeno.

Namun sekarang, ujar Subeno, lesung tergantikan oleh mesin penggiling padi modern. Para petani pun beralih ke alat yang lebih efisien ini dan meninggalkan lesung yang dulu menemani keseharian mereka. “Tidak lagi terdengar senandung kothekan lesung, berganti dengan suara mesin diesel penggiling padi modern.”