Selamat Idul Fitri 1435H

Ketua beserta Jajaran Pengurus Kulabangga mengucapkan SELAMAT IDUL FITRI 1434H, MOHON MAAF ATAS SEGALA SALAH DAN KHILAF. Selengkapnya »

Bantuan KULABANGGA mengalir ke Masyarakat Purbalingga

- Anak yatim dan kaum dhuafa di bawah asuhan beberapa panti asuhan di Purbalingga mendapatkan santunan Kumpulan Lare Purbalingga (Kulabangga) Jakarta. Santunan berupa uang tunai dan kitab suci Alqur’an, secara simbolis diserahkan Selengkapnya »

Ramadhan Tiba

SEGENAP PENGURUS KULABANGGA MENGUCAPKAN SELAMAT MENJALANKAN IBADAH PUASA RAMADHAN. SEMOGA AMAL IBADAHNYA DITERIMA ALLAH S.W.T. Selengkapnya »

KULABANGGA BERGERAK CEPAT MEREKRUT PESERTA MUDIK GRATIS

Sebagaimana tradisi yang terjadi di Indonesia khususya, yaitu mudik menjelang lebaran. Lebaran tanpa mudik serasa lebaran belum sempurna. Itulah kira – kira yang dirasakan masyarakat Indonesia khususnya. Dari tahun ke tahun, pemerintah Selengkapnya »

Sepucuk surat “cinta” kanggo UMKM Dahsyat

Suwening suwe nyong ngetokna unek – unek mbok menawa ana manfangate tumrape UMKM utawa masyarakat Purbalingga khususe. Kiprah UMKM angger tek mat – matna ning media sosial kayane semanger lan semangate ora Selengkapnya »

 

Umat Islam Aboge si Purbalingga berlebaran hari ini

IMG_16761535849932

IMG_69663301741047

Umat Islam Aboge (Alif Rebo Wage) di Purbalingga haei ini, Rabu (30/7) merayakan Hari Raya Idul Fitri 1435 H

“Berdasarkan perhitungan kami, puasa hari pertama jatuh pada Rabu Kliwon, atau tepatnya 30 Juli mendatang,” jelas sesepuh Islam Aboge di Desa Onje, Kecamatan Mrebet, Kiai Maksudi.

Dia menjelaskan, penentuan awal Ramadan tersebut berdasarkan penghitungan awal tahun Hijriah yang telah diyakini oleh penganut Islam Aboge sejak ratusan tahun lalu. Diakui olehnya, penetapan 1 Syawal Islam Aboge selalu berbeda dengan pemerintah. Hal itu menurut Kyai Maksudi sudah menjadi keyakinan penganut Islam Aboge. Dan tertulis di Alquran, tepatnya di Surat Yunus ayat 5.

Terjemahan Surat Yunus ayat 5 adalah, Dia-lah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya dan ditetapkan-Nya manzilah-manzilah (tempat-tempat) bagi perjalanan bulan itu, supaya kamu mengetahui bilangan tahun dan perhitungan (waktu). Allah tidak menciptakan yang demikian itu melainkan dengan hak. Dia menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya) kepada orang-orang yang mengetahui.

“Atas dasar itulah, kami melakukan penghitungan 1 Syawal. Meski berbeda, saya meminta hal itu tidak menjadi perdebatan di masyarakat. Kita punya keyakinan sendiri-sendiri. Jadi harus saling menghormati,” lanjutnya.

Dia menjelaskan, penganut Islam Aboge meyakini bahwa dalam kurun waktu delapan tahun atau satu windu terdiri atas tahun Alif, Ha, Jim, Awal, Za, Dal, Ba/Be, Wawu, dan Jim akhir serta dalam satu tahun terdiri 12 bulan dan satu bulan terdiri atas 29-30 hari dengan hari pasaran berdasarkan perhitungan Jawa, yakni Pon, Wage, Kliwon, Manis (Legi), dan Pahing.

Hari dan pasaran pertama pada tahun Alif jatuh pada Rabu Wage (Aboge), tahun Ha pada Ahad/Minggu Pon (Hakadpon), tahun Jim Awal pada Jumat Pon (Jimatpon), tahun Za pada Selasa Pahing (Zasahing), tahun Dal pada Sabtu Legi (Daltugi), tahun Ba/Be pada Kamis Legi (Bemisgi), tahun Wawu pada Senin Kliwon (Waninwon), dan tahun Jim Akhir pada Jumat Wage (Jimatge).

Hari dan pasaran pertama pada tahun berjalan ini menjadi patokan penentuan penanggalan berdasarkan rumusan yang berlaku bagi penganut Islam Aboge, misalnya Sanemro untuk menentukan awal Ramadan dan Waljiro untuk menentukan 1 Syawal. Perhitungan yang dipakai aliran Aboge telah digunakan para wali sejak abad ke 14 dan disebarluaskan oleh ulama Raden Sayyid Kuning.

Prof Eko Budhihardjo salah satu putra terbaik Purbalingga kini telah tiada

20140723034758768

Mantan Rektor Universitas Diponegoro (Undip) Semarang dan juga seorang budayawan, Prof Eko Budihardjo tutup usia hari. Budayawan yang akrab dipanggil Prof Eko itu meninggal di RSUP Dr. Kariadi Semarang.

Direktur Umum dan Operasional RSUP dr Kariadi Semarang, Dokter Darwito mengatakan Prof Eko sudah dirawat sejak hari Sabtu (19/7) lalu dan langsung masuk ke intensive care unit (ICU). Prof Eko tutup usia sekitar pukul 21.30, Selasa (22/7/2014).

“Meninggal pukul 21.30 tadi sejak dirawat hari Sabtu kemarin. Waktu masuk langsung dibawa ke ICU,” kata Darwito saat dihubungi detikcom.

Prof Eko, lahir di Purbalingga 9 Juni 1944. Guru besar arsitektur dan perkotaan Fakultas Teknik Undip itu pernah menjabat sebagai Rektor Undip pada periode 1998-2006.Ia meninggal dan pada usia 74 tahun akibat penyakit jantung.

Ucapan bela sungkawa pun banyak dikicaukan di twitter tidak terkecuali Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo. “Innalillahi wainna illaihi rojiun. Selamat jalan Prof. Eko Budihardjo,” tulis Ganjar dalam akun twitternya @ganjarpranowo.

Esensi makna dan hikmah Idul Fitri

IMG_69663301741047

Fajar 1 Syawal 1435 telah tiba. Umat Islam dari segala arah dan penjuru dunia dari sabang sampai merauke tak henti-hentinya mengumandangkan alunan suara takbir, tasbih, tahmid dan tahlil.

Bahkan sebagian masyarakat kita, pada malam hari raya Idul Fitri melakukan takbir keliling yang sudah menjadi budaya. Hal ini sesungguhnya merupakan manifestasi kebahagiaan setelah berhasil memenangi ibadah puasa, atau sebagai bentuk ungkapan rasa syukur kepada Allah SWT atas kemenangan besar yang kita peroleh setelah menjalankan ibadah puasa Ramadhan selama satu bulan.

Sebagaimana firman Allah SWT yang artinya: “Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur. ” Rasulullah SAW bersabda yang artinya “Hiasilah hari rayamu dengan takbir.”

Takbir kita tanamkan ke dalam lubuk hati sebagai pengakuan atas kebesaran dan keagungan Allah SWT. Kalimat tasbih kita tujukan untuk mensucikan Allah dan segenap yang berhubungan dengan-Nya. Tidak lupa kalimat tahmid sebagai puji syukur juga kita tujukan untuk rahman dan rahim-Nya yang tidak pernah pilih kasih kepada seluruh hamba-Nya. Sementara tahlil kita lantunkan untuk memperkokoh keimanan kita bahwa Dialah Dzat yang Maha Esa dan Maha Kuasa.

Esensi Makna Idul Fitri

Hari raya Idul Fitri adalah merupakan puncak dari pelaksanaan ibadah puasa. Idul Fitri memiliki makna yang berkaitan erat dengan tujuan yang akan dicapai dari kewajiban berpuasa itu sendiri yaitu manusia yang bertaqwa. Kata Id berdasar dari akar kata aada – yauudu yang artinya kembali sedangkan fitri bisa berarti buka puasa untuk makan dan bisa berarti suci. Adapun fitri yang berarti buka puasa berdasarkan akar kata ifthar (sighat mashdar dari afthara – yufthiru) dan berdasar hadis Rasulullah SAW yang artinya:”Dari Anas bin Malik: Tak sekali pun Nabi Muhammad SAW. Pergi (untuk shalat) pada hari raya Idul Fitritanpa makan beberapa kurma sebelumnya.” Dalam Riwayat lain: “Nabi SAW. Makan kurma dalam jumlah ganjil.” (HR Bukhari).

Dengan demikian, makna Idul Fitri berdasarkan uraian diatas adalah hari raya dimana umat Islam untuk kembali berbuka atau makan. Oleh karena itulah salah satu sunah sebelum melaksanakan shalat Idul Fitri adalah makan atau minum walaupun sedikit. Hal ini untuk menunjukkan bahwa hari raya Idul Fitri 1 syawal itu waktunya berbuka dan haram untuk berpuasa.

Sedangkan kata Fitri yang berarti suci, bersih dari segala dosa, kesalahan, kejelekan, keburukan berdasarkan dari akar kata fathoro-yafthiru dan hadis Rasulullah SAW yang artinya “Barangsiapa yang berpuasa di bulan Ramadhan dengan didasari iman dan semata-mata karena mengharap ridho Allah, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (Muttafaq ‘alayh). Barangsiapa yang shalat malam di bulan Ramadhan dengan didasari iman dan semata-mata karena mengharap ridho Allah, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu. (Muttafaq ‘alaih) . Dari penjelasan ini dapat disimpulkan pula bahwa Idul Fitri bisa berarti kembalinya kita kepada keadaan suci, atau keterbebasan dari segala dosa dan noda sehingga berada dalam kesucian (fitrah).

Jadi yang dimaksud dengan Idul Fitri dalam konteks ini berarti kembali kepada asal kejadiannya yang suci dan mengikuti petunjuk Islam yang benar. Bagi ummat Islam yang telah lulus melaksanakan Ibadah puasa di Bulan Ramadhan akan diampuni dosanya sehingga menjadi suci kembali seperti bayi yang baru dilahirkan dari kandungan Ibunya. Sebagaimana Sabda Nabi SAW yang Artinya“Setiap bayi dilahirkan dalam keadaan suci.”

Dalam bahasa Jawa, hari raya Idul Fitri disebut juga dengan istilah lebaran. Lebaran mengandung maksud lebar-lebur-luber-labur. Lebar artinya kita akan bisa lebaran dari kemaksiatan. Lebur artinya lebur dari dosa. Luber artinya luber dari pahala, luber dari keberkahan, luber dari rahmat Allah SWT. Labur artinya bersih sebab bagi orang yang benar-benar melaksanakan ibadah puasa, maka hati kita akan dilabur menjadi putih bersih tanpa dosa,makanya wajar kalau mau lebaran rumah-rumah banyak yang di labur hal ini mengandung arti pembersihan zhahir disamping pembersihan batin yang telah dilakukan.

Adapun terkait hidangan khas waktu lebaran yaitu ketupat, dalam bahasa Jawa ketupat diartikan dengan ngaku lepat alias mengaku kesalahan, bentuk segi empat dari ketupat mempunyai makna kiblat papat lima pancer yang berarti empat arah mata angin dan satu pusat yaitu arah jalan hidup manusia. Ke mana pun arah yang ingin ditempuh manusia hendaknya tidak akan lepas dari pusatnya yaitu Allah SWT.

Oleh sebab itu ke mana pun manusia menuju, pasti akan kembali kepada Allah. Rumitnya membuat anyaman ketupat dari janur mencerminkan kesalahan manusia. Warna putih ketupat ketika dibelah melambangkan kebersihan setelah bermaaf-maafan. Butiran beras yang dibungkus dalam janur merupakan simbol kebersamaan dan kemakmuran. Janur yang ada di ketupat berasal dari kata jaa-a al-nur bermakna telah datang cahaya atau janur adalah sejatine nur atau cahaya. Dalam arti lebih luas berarti keadaan suci manusia setelah mendapatkan pencerahan cahaya selama bulan Ramadan.

Adapun makna filosofis santen yang ada di masakan ketupat adalah suwun pangapunten atau memohon maaf. Dengan demikian ketupat ini hanyalah simbolisasi yang mencerminkan kebersihan dan kesucian hati setelah mohon ampun dari segala kesalahan hal ini merupakan makna filosofis dari warna putih ketupat jika dibelah menjadi dua. Sedangkan, janur melambangkan manusia yang telah mendapatkan sinar ilahiah atau cahaya spiritual/cahaya jiwa. Anyaman-anyaman diharapkan memberikan penguatan satu sama lain antara jasmani dan rohani.

Pemaknaan hari raya Idul Fitri hendaknya bersifat positif seperti menjalin silaturrahmi sebagai sarana membebaskan diri dari dosa yang bertautan antar sesama makhluk. Silaturahim tidak hanya berbentuk pertemuan formal seperti Halal bi Halal, namun juga bisa dengan cara menyambangi dari rumah ke rumah, saling duduk bercengkerama, saling mengenalkan dan mengikat kerabat. Apalagi sekarang permohonan maaf dan silaturahim sudah tidak mengenal batas dan waktu sebab bisa menggunakan jejaring media sosial seperti contoh lewat sms, update status, inbox di facebook, twiter, yahoo messenger, skype dan email.

Begitulah pentingnya silaturahim sebagaimana Sabda Rasulullah SAW yang artinya “Tidaklah dua orang muslim bertemu lalu berjabat tangan melainkan keduanya akan diampuni (dosanya) sebelum mereka berpisah. (HR.Daud,Tirmidzi&Ibnu Majah)

Kini kita dengan rasa suka cita dan senang karena kita menyambut hari kemenagan di samping itu kita juga bercampur sedih, dan dengan linangan air mata bahagia kita di tinggalkan bulan Ramadhan yang penuh berkah, maghfirah dan rahmat Allah SWT. Banyak pelajaran dan hikmah, faidah dan fadhilah yang kita dapatkan. Kini bulan Ramadhan telah berlalu, tapi satu hal yang tidak boleh meninggalkan kita dan harus tetap bersama kita yaitu spirit dan akhlak Ramadhan, sehingga 1 Syawal harus menjadi imtidad, lanjutan Ramadhan dengan ibadah serta kesalehan sosial. Sebab kata syawal itu sendiri artinya peningkatan. Inilah yang harus mengisi sebelas bulan ke depan dalam perjalanan hidup kita.

Hikmah Idul Fitri

Seorang muslim yang kembali kepada fitrahnya ia akan memiliki sikap yaitu Pertama, ia tetap istiqomah memegang agama tauhid yaitu islam, ia tetap akan berkeyakinan bahwa Allah itu maha Esa dan hanya kepadanya kita memohon. Kedua, dalam kehidupan sehari-hari ia akan selalu berbuat dan berkata yang benar,walau kaana murron meskipun perkataan itu pahit. Ketiga, ia tetap berlaku sebagai abid, yaitu hamba Allah yang selalu taat dan patuh kepada perintah-Nya sebagai contoh kita harus menghormati kedua orang tua kita baik orang tua kandung maupun mertua, jikalau sudah meninggal berziarahlah ke tempat makam mereka untuk mendoaakan agar dilapangkan kuburannya dan diampuni dosanya.

Mudah-mudahan berkat ibadah selama bulan Ramadhan yang dilengkapi dengan menunaikan zakat fitrah, Insya Allah kita termasuk orang-orang yang kembali kepada fitrahnya, karena ibadah puasa Ramadhan berfungsi sebagai tazkiyatun nafsi yaitu mensucikan jiwa dan zakat fitrah berfungsi sebagai tazkiyatul badan, yaitu mensucikan badan, maka setelah selesai ibadah puasa dan menunaikan zakat,seorang muslim akan kembali kepada fitrahnya yaitu suci jiwanya dan suci badanya.

Seorang muslim yang kembali kepada fitrahnya selain sebagai abid ( hamba Allah ) yang bertakwa, ia juga akan memiliki kepekaan sosial yang tinggi peduli kepada lingkungannya. Itulah beberapa indikator dari gambaran seorang yang kembali kepada fitrahnya setelah selesai menunaikan ibadah shaum Ramadhan sebulan lamanya, dan itu akan tampak pada dirinya setelah selesai puasa ramadhan,mulai hari ini dan seterusnya.

Namun bila ketiga ciri fitrah tersebut tidak tampak pada diri seorang muslim mulai hari ini dan hari-hari berikutnya, maka berarti latihan dan pendidikan puasa Ramadhan yang telah dilakukannya selama sebulan tidak berhasil, karena ia tidak mampu kembali kepada fitrahnya. Semoga dengan kembalinya semua warga masyarakat muslim di negeri ini kepada Fitrahnya, cita-cita negara kita menjadi Negara yang Adil dan Makmur, Gemah Ripah Loh Jinawi, Gemah merenah tur tuma’ninah dibawah ridha Allah SWT atau dengan istilah agama baldatun thayyibatun wa Rabbun Ghafur.

Dalam kesempatan berlebaran di hari raya yang suci ini, mari kita satukan niat tulus ikhlas dalam sanubari kita, kita hilangkan rasa benci, rasa dengki, rasa iri hati, rasa dendam, rasa sombong dan rasa bangga dengan apa yang kita miliki hari ini. Mari kita ganti semua itu dengan rasa kasih sayang&rasa persaudaraan. Dengan hati terbuka, wajah yang berseri-seri serta senyum yang manis kita ulurkan tangan kita untuk saling bermaaf-maafan. Kita buka lembaran baru yang masih putih, dan kita tutup halaman yang lama yang mungkin banyak terdapat kotoran dan noda seraya mengucapkan Minalaidinal faizin. Semoga Allah SWT, selalu memberikan pertolongan kepada kita. Oleh karena itu marilah kita jadikan Idul Fitri 1435 ini berbeda dengan Idul Fitri di tahun-tahun sebelumnya karena kita baru saja telah melaksanakan pesta demokrasi pemilihan presiden. Walaupun kemarin beda pilihan itulah seninya berdemokrasi, mari merajut kembali dan maksimalkan bersilaturahim untuk meminta maaf, memberi maaf dan menjadi seorang pemaaf. Jangan biarkan kedengkian dan kebencian merasuk kembali ke jiwa kita yang telah suci.

Sumber : dakwatuna.com